True Story

Mbah Guco dan Reog di Probolinggo

admin

21/06/2020

Mbah Guco & Sanggar Mardi Budoyo

 

 

NAMA Mbah Guco dikenal sebagai tokoh seni Reog Ponorogo yang lama eksis di Kota Probolinggo. Reog memang dari Ponorogo. Tetapi, itu tidak berarti Mbah Guco berasal dari Ponorogo.  Mbah Guco berdarah Kota Probolinggo.

 

Mbah Guco lahir dengan nama asli Bambang Suripono.  Kedua orang tuanya tinggal di sebuah rumah berdesain kuno di Jl Juanda, Kelurahan Tisnonegaran Kota Probolinggo, yang bertahan hingga sekarang.

 

Sesepuh Mbah Guco berdarah ningrat. Sedangkan bapaknya seorang tentara pejuang zaman kolonial Belanda. Di masa Bambang Suripono masih dalam kandungan, orang tuanya dikejar-kejar tentara Belanda.  Saat itu masih dalam masa Agresi Militer Belanda. 

 

Orang tua Mbah Guco menyelamatkan diri ke Madiun. Dan di Madiun lah Mbah Guco dilahirkan, tepatnya pada 31 Mei 1949. Ia diberi nama Bambang Suripono. Pria yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Mbah Guco ini merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara.  

          

          Namun, pelarian keluarga Mbah Guco di Madiun tidak bisa bertahan lama. Keluarga ini  dikejar lagi oleh tentara Belanda, hingga terpaksa merantau lagi ke Ponorogo sampai Mbah Guco berumur 5-6 tahun.  Selama di Ponorogo, Mbah Guco tinggal di Sumoroto. Itupun masih lompat-lompat ke beberapa daerah, meliputi Bolan, Nampan, Beringin, dan Ngerandu.

 

Setelah merasa mulai aman, keluarga Mbah Guco balik ke Probolinggo. Di usia TK, Mbah Guco ingat masuk sekolah yang sekarang lokasinya di belakang Taman Siswa. “Kepala sekolahnya Bu Kut,” kata Mbah Guco dalam perbincangan dengan penulis, Sabtu, 13 Oktober 2018.

 

Lepas TK, Mbah Guco kecil masuk SDK Mater Dei. Setelah itu ia meneruskan masuk Sekolah Teknik (ST).  Lulus ST, Mbah Guco tidak bersekolah lagi. Di tahun 1972, Mbah Guco mulai kerja di PP31, ini sebutan untuk tenaga sukarelawan (sukwan) zaman dulu. Mbah Guco tepatnya bekerja di kantor pembatu bupati (kawedanan) Sukapura, yang membawahi Lumbang, Wonokerso, dan Sumber.

 

Dari Sukapura, Mbah Guco pindah tugas lagi di Tongas sebentar. Lalu pindah lagi di kawedanan Gending, tetapi sudah berstatus sebagai PNS. Setelah mengalami empat kali pembantu bupati, Mbah Guco memilih berhenti dari PNS. “Tidak enak. Zaman dulu kerja hanya mengenakkan pembantu bupatinya,” ucap Mbah Guco.

           

            Di usia dewasa, darah seni sudah mengalir kental dalam diri Mbah Guco.

 

           Setelah keluar dari PNS, Mbah Guco menjalankan kegiatan seni-budaya. Ia mula-mula menjadi pelaku kerapan sapi, menjadi ketua komunitas kerapan sapi kota dan kabupaten Probolinggo.

          

              Sedangkan dalam kegiatan seni, Mbah Guco menjalankan seni wayang orang, ketoprak untuk anak-anak, dan ludruk. “Di ludruk dan wayang orang, saya ikut main. Ludruk Sinar Budaya atau apa itu ya dulu? Saya lupa,” katanya.

           

               Tapi, hanya beberapa tahun berjalan, seni wayang, ketoprak dan ludruk yang dijalankan Mbah Guco akhirnya berhenti. “Capek saya. Kebanyakan orang,” ujar Mbah Guco mengernyit.  

             

                Setelah keluar dari PNS, Mbah Guco pulang ke Ponorogo. Di sana dia diberi reog  lengkap dengan gamelan oleh Mbah Kasni, yaitu sesepuh di Sumoroto. Reog itu kemudian dibawa ke Kota Probolinggo.

 

 Tak disangka, reog dari Ponorogo yang dibawa Mbah Guco itu banyak diminati warga sekitar. Jadi banyak pula anak kecil yang berminat main reog. Akhirnya Mbah Guco melatih anak-anak kampung sekitar main reog. Lalu karena banyak anak kecil yang suka latihan reog, Mbah Guco diberi lagi reog kecil oleh sesepuh Sumoroto. Sampai sekarang Mbah Guco punya delapan reog Ponorogo.

           

***

 

Mbah Guco yang lahir di tempat pelarian, pada masa dewasanya menjadi pelaku seni. Lalu di mana dan bagaimana prosesnya mengenal dan belajar seni tradisi, khususnya reog Ponorogo?

 

Mbah Guco mengenal dunia seni tradisional sejak usia kecil. Konon di usia belum sekolah, saat masih dalam pelarian, Mbah Guco diambil anak oleh beberapa orang sepuh di Ponorogo. Mereka adalah Kepala Desa Nampan Mbah Kandar, dan Mbah Rusmadi  di Desa Mbolan yang memiliki Reog Unggulono. Mereka lah yang mengenalkan seni reog Ponorogo kepada Mbah Guco. “Waktu kecil, saya sudah biasa dicengklak, diajak main reog di Ponorogo,” kata Mbah Guco.

 

Di masa kecilnya Mbah Guco yang sudah balik tinggal di Probolinggo, tetapi masih sering datang ke Ponorogo untuk belajar reog. Itu terjadi selama Mbah Guco duduk di bangku SD-ST. Mbah Guco belajar reog, berawal dari latihan pujangganong, mbarong, dan njatil.

 

“Masih sering itu saya bolak-balik ke Ponorogo untuk belajar seni reog. Yang paling disenangi dari belajar reog itu kalau sudah menggigit dadak reog,” tutur Mbah Guco dengan mata berbinar.

           

          Dalam perjalanan hidupnya, termasuk selama bolak-balik Probolinggo-Ponorogo, Mbah Guco belajar banyak tentang berbagai jenis seni tradisional. Termasuk ludruk, ketoprak dan wayang orang. Maka wajar bila setelah melepas PNS-nya, Mbah Guco berani terjun di bidang kesenian tradisional tersebut. Dan yang utama, Mbah Guco menjadi penyanggah terkuat seni reog Ponorogo di Kota Probolinggo.

 

***

 

 

Mbah Guco sudah lama mengenalkan seni tradisi reog Ponorogo kepada masyarakat sekitarnya. Tetapi sebelum tahun 2009, Mbah Guco belum resmi memiliki sanggar seni. Baru pada 31 Desember 2009 aktivitas seni yang ditekuni Mbah Guco resmi menjadi sanggar, dan diberi nama Sanggar Mardi Budoyo. “Diselameti segala. Itu setelah mendapat kartu induk seniman dari Disbudpar,” kata Mbah Guco.

 

Dalam sanggar itu, Mbah Guco sudah tinggal jadi pembina. Sehari-harinya, Sanggar Mardi Budoyo dipimpin oleh putri semata wayang Mbah Guco, yaitu Yuyun Widowati. Yuyun lulusan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, tetapi minatnya mengikuti bapaknya, yaitu menekuni seni reog Ponorogo. Jadi, Yuyun belajar reog dengan cara mengamati Mbah Guco. Tetapi secara spesifik Yuyun memilih serius belajar tari Jawa. 

 

Dan sejak 2009 itu, Sanggar Mardi Budoyo tidak hanya mengajarkan seni reog Ponorogo, tetapi juga seni tari Jawa, juga seni Jaran Bodhag. Sampai sekarang yang ikut berlatih di Sanggar Mardi Budoyo ada tingkat SD, sampai SMA/SMK.

 

“Yang berlatih reog dan jaran bodhag itu ada 25 anak lebih. Dan sebagian besar pemain itu juga adalah pengrawit (pemain musik),” terang Mbah Guco. Mereka rutin berlatih setiap Sabtu malam, dan Minggu pagi.  

          

           Menurut Mbah Guco, selalu ada kepentingannya mengajarkan seni tradisi seperti juga reog, kepada generasi muda. “Agar mereka menjadi generasi penerus reog, dan agar reog tetap ada di masa depan,” kata Mbah Guco yang juga menjadi Ketua Pirukunan Mardi Utomo.  

 

Bagi Mbah Guco, mengajarkan reog kepada anak-anak memang lebih potensial. Sebab, mereka tidak mengejar bayaran. “Kalau ada honor ya dibagi, sisanya untuk kas. Bayarannya itu bisa mereka pakai untuk keperluan sekolah,” terang Mbah Guco yang juga menjadi pembina spiritual dan telah mendapat gelar Raden Tumenggung dari Keraton Surakarta.

        

        Dan di Sanggar Mardi Budoyo, anak-anak tetap dimotivasi untuk serius dengan pendidikannya. “Sampai ada perjanjiannya, kalau sampai tidak naik sekolah, tidak diajak rekreasi bersama sanggar,” kata Mbah Guco, lalu terkekeh.

        

            Selain itu, Mbah Guco juga berusaha menjauhkan anak-anak asuhnya dari kenakalan mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Sanggar Mardi Budoyo bahkan rutin mengundang kepolisian untuk memberi sosialisasi pencegahan narkoba dan miras di sanggar. 

       

           Yang menarik, Sanggar Mardi Budoyo tetap mampu eksis meski tidak memungut uang iuran dari anak asuhnya. “Di Sanggar Mardi Budoyo tidak ada iuran sama sekali. Justru kalau mau belajar, ayo latihan, malah tak wenehi mangan,” kata Mbah Guco.

 

   Mbah Guco memang memiliki sosok yang memimpin dan meneruskan Sanggar Mardi Budoyo, yaitu Yuyun. Tetapi ia berharap ada lebih banyak lagi orang yang peduli dan mengembangkan seni tradisi macam reog Ponorogo, seni tari Jawa, hingga seni jaran bodhag khas Kota Probolinggo.

 

  Menurutnya, jika ingin kesenian di Kota Probolinggo berkembang, penerusnya yang harus bergerak terus. “Orang-orang seperti saya ini sudah tua. Opo yo sik kuat?” tanya Mbah Guco yang telah memiliki belasan cucu.  (*)

 

 

Sanggar Mardi Budoyo

Nama lengkap pendiri            : Bambang Suripono 

Julukan                                    : Mbah Guco

Pemimpin Sanggar                 : Yuyun Widowati

Tempat dan tanggal lahir       : Madiun, 31 Mei 1949

Tempat tinggal                       : Jl H Juanda no 27 Kelurahan Tisnonegaran, Kec. Kanigaran.

                                                  Kota Probolinggo  

Aktivitas Sanggar

Jadwal Latihan                        : Sabtu malam & Minggu pagi

Kesenian yang ditekuni           : Reog Ponorogo, Tari Jawa, Jaran Bodhag 

Jumlah anak didik (2018)        : 25 anak

 

 

 

Penulis: Imam Wahyudi

Foto    : Dokumen DKKPRO

(Koleksi DKKPRO Data Seniman Kota Probolinggo)    

Related post

Berlangganan sekarang juga!

Berlangganan sekarang juga lalu dapatkan info berita terbaru dari kami. Atau daftar menjadi member dan akses semua konten, klik disini.